Pintu masuk ke pasar berupa pintu kecil layaknya masuk ke sebuah rumah dengan pagar dari kayu yang mengitari pasar. Namun, di dalamnya berisi sekitar 50 pedagang dengan berbagai dagangan yang dijual seperti sayuran, makanan ringan, sembilan bahan pokok (sembako), dan buah-buahan.
“Dilihat dari luar, bangunan Pasar Mlinjon memang seperti rumah. Tanahnya juga tidak terlalu luas, sekitar 700 meter persegi dan jumlah pedagangnya juga sekitar 50 orang. Apalagi, lokasinya berada di perkampungan yang hanya bisa diakses melalui gang kecil. Padahal, lokasinya masih di tengah kota,” kata seorang pedagang sembako di Pasar Mlinjon, Nur Ahyani, 33, saat ditemui Solopos.com di kiosnya, Minggu (24/11/2013).
“Dulu, pasar ini menjadi pusat kulakan sayur dan buah untuk penjual masakan matang, bahkan pengelola restoran. Tapi, sekarang semakin sepi dan pembelinya mayoritas warga sekitar setelah banyaknya toko modern. Hal itu membuat jumlah pedagang juga ikut berkurang. Ditambah lagi, toko modern itu juga melayani eceran. Sedangkan sebelumnya hanya melayani pembelian secara grosir,” tuturnya yang sudah berjualan sekitar delapan tahun itu.
Seorang penjual makanan ringan di Pasar Mlinjon, Sarini, 52, juga menyatakan hal serupa. Ia yang sudah berjualan di pasar tersebut sekitar 20 tahun juga mengeluhkan jumlah pembeli di pasar yang semakin berkurang.
“Dulu, pasar ini ramai pembeli dan banyak pedagang. Tapi, sekarang semakin sepi pembeli sehingga jumlah pedagang juga ikut berkurang. Terutama saat hari Minggu seperti ini, biasanya yang berjualan hanya belasan orang karena banyak yang memilih libur,” tuturnya kepada Solopos.com.
Namun, ia tidak menyerah dengan keadaan tersebut. Ia tetap berdagang di pasar itu walaupun dengan keuntungan sedikit. “Yang penting tetap berusaha, karena berdagang itu modalnya telaten. Walaupun saat ini keuntungannya sangat berkurang dibanding sebelum adanya toko modern,” imbuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar